Implementasi TJSL, Pembangkitan Jawa Bali Kembangkan Tiga Program CSV

JAKARTA- PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB), perusahaan pengembang pembangkit listrik anak usaha PT PLN (Persero), mengembangkan tiga program Creating Shared Value (CSV). Ketiga program yang masuk dalam tanggung jawab sosial dan lingungan (TJSL) PJB itu adalah co-firing pada PLTU,  pompa listri untuk pertanian, dan PJB Class.

Zubaidah, Sekretaris Perusahaan PJB, mengatakan CSV pada co-firing adlah penerapan green energy pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Program ini berupa pemanfaatan biomassa sebagai  substitusi (campuran bahan bakar). “Dalam program ini, kami melibatkan UKM sebagai penyedia biomassa,” ujar Zubaidah dalam diskusi virtual yang diselenggarakan Dunia Energi, Selasa (8/6).

Untuk pompa listrik untuk pertanian, lanjut Zubaidah, dengan mengonversi pompa air bermesin diesel yang  menggunakan  bahanbakar minyak dengan pompa air listrik .  Penggunaan pompa ini berhasil  mengurangi biaya produksi petani.

Adapun PJB Class adalah program PJB dalam mencetak lulusan SMK yang berkeahlian ketenagalistrikan sebagai tenaga kerja siap pakai yang tersertifikasi. “Pengembangan CSV di PJB memikirkan banyak aspek, bisnis tumbuh berkesinambungan di lingkungan yang kondusif, tidak hanya lakukan program –program CSR membantu masyarakat, tapi apakah juga bersentuhan langsung dengan bisnis berkelanjutan,” katanya.

Di luar kegiatan yang diproyeksikan dalam TJSL, PJB melaksanakan aksi tanggap bencana. Bentuk aksi PJB dalam tanggap kebencanaan berupa fast response dan empowerment. Di bidang fast response, aksi yang dilakukan adalah  pemberian paket semabko, handsanitizer, dan masker kain kepada masyarakat; pemberian makanan sehat, thermo gun, tenda posko untuk institusi keamanan; penyediaan APD lengkap untuk  Puskesmas/Faskes; dan penyediaan alat dan ciran disinfektan serta wastafel portabel untuk pemerintah daerah.

“Untuk empowerment, kami ada  kegiatan di Unit Pembangkitan Gresik berupa program pijar  berdaya dan UP Paiton berupa program kampung kelor dan Dewi Harmoni,” katanya.     

PROPER Emas

Pada bagian lain penjelasannya, Zubaidah mengatakan, pada 2020 perusahaan meraih Predikat PROPER Emas melalui UP Gresik di Jawa Timur. Tahun ini, PJB menargetkan sekurangnya dapat meraih satu Predikat PROPER Emas, enam PROPER Hijau, dan enam PROPER Biru di ajang tahunan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Untuk mencapai target tersebut, program  tanggung jawab sosial dan  lingkungan (TJSL) PJB mengedepankan tiga pilar, yaitu sosial, ekonomi, dan lingkungan dengan mengacu pada ISO 26.000.

“Program TJSL PJB  selaras dengan visi PLN, yaitu menjadi perusahaan terkemuka se-Asia Tenggara dan menjadi pilihan nomor satu pelanggan untuk solusi energi,” ujarnya.

Menurut Zubaidah, pilar sosial  berupa program pendidikan keterampilan untuk menunjang ekspansi bisnis, bekerja sama dengan perguruan tinggi atau pihak lain.  Pilar ekonomi berupa program pengembangan UKM yang dapat menunjang kebutuhan perusahaan.

“Pilar lingkungan merupakan program inovatif peningkatan kualitas hidup masyarakat berbasis lingkungan yang tematik, terintegrasi dengan pengembangan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan,” ujarnya.

Sudharto P Hadi, Ketua Dewan Pertaimbangan PROPER Kementerian LHK, mengatakan PROPER sejatinya bukan tujuan tapi wahana mewujudkan keberlanjutan perusahaan  yang menjadi idaman semua pemangku kepentingan. “Profit memang perlu, tapi kita juga perlu masyarakat yang terdampak pada kegiatan kita, caranya adalah dengan membangun sistem,” ujarnya.

Riki Ibrahim, Direktur Utama PT Geo Dipa Energi, menambahkan PROPER bukan tuntutan semata-mata untuk mendapatkan terkenal, tapi tuntuan dunia. Untuk panas bumi adalah energi baru terbarukan yang betul-betul untuk mengelolanya bermanfaat bagi masyarakat. “Kami sebagai perusahaan harus jaga operation excellent dan safety culture,” ujarnya. (ika)

Editor: ika