Giat Cari Sumber Minyak, Pertamina EP Gelontorkan Dana Eksplorasi US$606 Juta



JAKARTA- PT Pertamina EP, anak usaha PT Pertamina (Persero) di sektor hulu migas, mendapatkan apresiasi dari asosiasi terkait karena komitmen dan konsistensinya dalam mencari sumber minyak untuk menggantikan minyak yang telah diproduksikan. Sepanjang 2017 hingga 2020, Pertamina EP menganggarkan US$606 juta, termasuk US$ 112 juta untuk kegiatan eksplorasi tahun ini.

Menurut Deni Rahayu, Dewan Pakar Asosiasi Daerah Penghasil Migas, PT Pertamina EP (PEP) adalah sedikit dari kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) di bawah pengawasan SKK Migas yang memiliki komitmen tinggi untuk kegiatan pencarian sumber daya minyak dan gas bumi yang berada di perut bumi. Sepengetahuan Deni, setiap tahun PEP mengucurkan dana di atas US$ 100 juta untuk kegiatan eksplorasi.

“Saya dapat informasi, anggaran PEP untuk eksplorasi itu setiap tahunnya berada di level US$ 100 belasan juta dolar, bahkan yang tertinggi itu pada 2018 sekitar US$ 160-an juta,” ujar Deni di Jakarta, Jumat (20/3). 

Dana itu dialokasikan untuk pemboran 26 sumur, survei seismik dua dimensi (2D) 2.508 km, dan survei seismik tiga dimensi (3D) seluas 1.367 km2 sepanjang 2017-2019. Dari aktivitas tersebut, PEP berhasil meningkatkan temuan sumber daya 2C yang saat ini berada di level 103 MMBOE dan target tahun ini 106 MMBOE.

Deni mengatakan, PEP telah menerapkan konsep quantity assurance dalam kegiatan eksplorasi, yaitu metodologi monitoring kuantiti aliran minyak dan gas dari suatu proses ekplorasi, operasi dan produksi. Dengan demikian, data dan informasi bisa lebih terverifikasi dan tervalidasi. Hal ini berdampak proses bisnis PEP dapat dilihat secara utuh. Karena itu, optimalisasi produksi terealisasi, selain dapat digunakan juga sebagai bahan dasar bagi keputusan-keputusan PEP dalam melakukan kegiatan-kegiatan eksplorasi dan produksi lainnya.

“Penambahan cadangan PEP dapat dicapai karena banyak potensinya. Eksplorasi yang masif masih dapat dilakukan dengan melihat kembali data-data terdahulu (data sumur, seismik maupun studi sebelumnya) terkait upside potensial yang bisa didapatkan,” ujarnya.

Menurut dia, Indonesia berpotensi mengembalikan produksi minyak ke level 1 jutaan barel per hari (BOPD) melalui kegiatan eksplorasi yang masif kendati saat ini produksi masih di bawah 725 ribu BOPD karena masih banyaknya potensi cadangan. Dari 128 cekungan (basins), baru 54 cekungan yang sudah melalui eksplorasi dan eksploitasi dengan reserves 3,2 billion barrel oil dan gas 100 TCF. 

Nanang Abdul Manaf, Presiden Direktur PEP, sebelumnya menyatakan cadangan minyak yang dikelola PT Pertamina (Persero) diprediksi bakal habis dalam 9,7 tahun. Ramalan itu bisa terjadi bila BUMN perminyakan ini tak melakukan apa-apa. Untuk mencegah hal tersebut, Pertamina melalui PEP terus berupaya menggenjot eksplorasi alias pencarian sumur-sumur minyak baru.

Menurut Nanang, pencarian sumber-sumber cadangan baru memanglah bukan perkara mudah mengingat data-data awal yang menunjukkan sumber cadangan minyak Indonesia berlokasi di laut dalam. "Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang hulu migas, PEP tentunya mempunyai tantangan dalam meningkatkan angka produksi dan mencari cadangan baru yang potensial," ujarnya.

Namun, tambah Nanang, PEP tak menyerah dan terus berupaya mendorong berbagai langkah untuk menggenjot kegiatan eksplorasi sumur-sumur lokasi-lokasi cadangan baru. Apa lagi, pemerintah mempercepat target pencapaian produksi minyak 1 juta barel/hari dari semula 2030 menjadi 2025.

"Kami terus berkomitmen untuk meningkatkan cadangan dengan bersinergi kepada seluruh pemangku kepentingan untuk mendukung ketahanan energi nasional," ujar Nanang saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi Energi DPR di Jakarta, baru baru ini. (aps)

Editor: alam